DISINI

KAUM TANI DAN KESEJAHTERAAN (sebuah resume tentang kaum tani di Flores Timur dan jalan menuju kesejahteraannya) ***Oleh Darius Boli***

Sekali kita berbicara tentang petani dan menghubungkan dengan kesejahteraannya, saat itu juga kita menyadari betapa kompleksnya persoalan yang kita hadapi. Betapa tidak!  Klas yang kita namakan petani  tidak mempunyai posisi yang sama dalam hubungannya dengan alat-alat produksi. Dalam kaitan dengan sisa-sisa feodalisme, kita menjumpai para tuan tanah di satu pihak dan petani penggarap di pihak lain. Dalam kaitan dengan kapitalisme, kita menjumpai kapitalis pertanian di satu sisi dan buruh tani (istilah Tan Malaka: proletar tanah) di sisi lain. Di samping itu kita juga berjumpa dengan lapisan burjuis kecil di kalangan petani, yakni petani kecil dan petani menengah.
Tuan tanah adalah orang yang memiliki tanah berhektar-hektar dan menyewakannya kepada para penggarap, Kapitalis pertanian adalah orang yang memiliki tanah berhektar-hektar dan menjadikannya lahan-lahan agrobisnis (para kapitalis pertanian), Petani kecil adalah orang yang hanya memiliki dan menggarap sejengkal tanah untuk mempertahankan hidup, Petani menengah adalah orang yang memiliki lahan yang diandalkan untuk menghasilkan panenan yang bisa dilempar ke pasar hasil-hasil pertanian namun sangat bergantung pada kebijakan pemerintah terhadap pasar tersebut dan Petani penggarap adalah orang yang menyewa dan menggarap tanah orang lain, dengan hasil “bersih” yang hanya bisa digunakan untuk menyambung hidup. Sementara di sisi lain kita menjumpai buruh tani sebaga orang yang menjual tenaga mereka kepada para kapitalis pertanian dan bekerja di lahan-lahan agrobisnis mereka, demi sepeser upah yang hanya bisa digunakan untuk bertahan hidup.
Membawah petani Flores Timur untuk menemukan kesejahteraannya itu tidak semuda membalikan telapak tangan, tidak sekedar memberikan slogan tipu daya yang tidak memiliki dasar pijakan yang menyentuh entitas,  tidak hanya dengan menyodorkan program sempit tanpa memahami entitasnya. Nampaknya jelas, secara sosiologis petani di kabupaten Flores Timur memiliki banyak “entitas” atau wujud. Masing-masing entitas tentu memiliki kepentingan-kepentingan ekonomi-politiknya sendiri. Kenyataan ini memunculkan pertanyaan serius tentang petani dan perjuangan untuk kesejahteraannya. Apa yang harus di lakukan untuk bisa mewujukan kesejahteraan petani di Flores Timur?.
Pertanyaan diatas sangat menggelitik ketika di hadapkan pada terobosan-terobosan yang dilakukan oleh borjuasi nasional dalam setiap perhelatan pesta demokrasi. Mestinya masyarakat petani wajib memahami jalan keluarnya sendiri agar tidak terkecoh dengan slogan yang tidak sesuai dengan jalan keluar yang ia pahami.
Produksi, distribusi dan konsumsi adalah tiga hal pokok yang mengantar masyarakat untuk menemukan kesejahteraannya. Petani dalam melakukan kerja produksi menghasilkan barang kebutuhan dari pertaniannya tidak terlepas dari entitasnya, apakah sebagai Tuan tanah, petani penggarap, petani kecil, petani menengah, atau buruh pertanian. Entitas inilah kemudian akan menentukan bagaimana para petani melakukan kerja produksi dan hubungannya terhadap ketersediaan factor-faktor produksi (alat kerja, tenaga kerja dan lahan untuk bekerja) berdasarkan entitasnya tersebut.
Kerja produksi inilah menjadi hal utama yang harus di perhatikan jika petani ingin menemukan keadilan dan kesejahteraannya. Keberadaan petani yang terbagi dalam kelompok yang berbeda tersebut akan sangat berpengaruh terhadap distribusi dan konsumsi hasil pertanian. Dari kerja produksi ini kita meilihat telah terjadi proses penghisapan yang terjadi antar petani yang berbeda entitasnya.
Eksploitasi (penghisapan) secara langsung dan vulgar terjadi di antara tuan tanah dan kapitalis pertanian di satu sisi dan petani penggarap dan proletar tanah di sisi lain. Dengan kata lain, tuan tanah dan kapitalis pertanian adalah kaum penghisap, sedangkan petani penggarap dan buruh tani adalah kaum yang terhisap. Yang paling Nampak di Flores Tmur adalah petani kecil dan petani menengah yang tidak mengalami penghisapan secara langsung dan vulgar antar entitasnya, tetapi menjadi pihak yang selalu kalah. Petani kecil berusaha bertahan hidup dengan menggulati tanah yang hanya sejengkal, kemurahan alam, dan hama, dengan perkakas pertanian yang sederhana serta dibebani harga pupuk, tengkulak, dan rentenir. Kekalahan dalam pergulatan itu akan membuatnya menjadi buruh tani atau pergi mencari pekerjaan sebagai TKI baik didalam negeri maupun diluar negri yang posisinya semakin terhisap oleh kapitalis yang semakin besar dan oleh institusi kapitalis tersebut menyebutkannya sebagai pahlawan devisa dan keselamatannya terus terancam seperti pengalaman yang terjadi pada TKI selama ini.
Petani menengah berusaha mengembangkan perekonomiannya di hadapan tantangan alam dan hama di satu sisi serta kapitalis pertanian di sisi lain. Sehubungan dengan tantangan alam dan hama, serta harga pupuk, tengkulak, dan rentenir petani menengah relatif lebih kuat daripada petani kecil. Tapi ketika berhadapan dengan kapitalis pertanian, yang bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah terhadap pasar, petani menengah tidak berdaya. Bila cukup beruntung, ia bisa bertahan untuk sejurus waktu lamanya. Bila tidak, ia akan terhempas dan menjadi petani kecil bahkan bangkrut dan menjadi buruh tani. Bila cukup cerdik, dan pada saat yang sama si kapitalis pertanian berbaik hati, petani menengah akan menginduk pada si kapitalis pertanian, menjadi mitra yunior si kapitalis pertanian, dan menjadi kaum yang dieksploitasi namun hampir pasti menerima tetesan-tetesan berkat dari si kapitalis pertanian.
Semua entitas atau wujud dari kalangan petani mempunyai hubungan yang langsung, kendati beragam, dengan tanah. Bagi para tuan tanah, kapitalis pertanian, dan petani menengah, fungsi utama tanah adalah untuk mendatangkan profit (keuntungan). Sedangkan bagi para petani kecil, petani penggarap, dan buruh tani, fungsi utama tanah adalah subsistensi, yakni untuk mempertahankan hidup mereka dan keluarga mereka. Dalam pada itu, sebagai lapisan yang secara umum merupakan lanjutan langsung dari feodalisme, petani memiliki keterikatan yang kuat dengan tanah. Wujud-wujud atau lapisan-lapisannya memiliki aspirasi dasar yang sama: kepemilikan pribadi atas tanah. Dalam kenyataannya, sejarah memperlihatkan kepada kita, bahwa pemberontakan-pemberontakan kaum tani kecil memiliki ciri yang sama: menuntut kepemilikan pribadi atas tanah. Sejarah juga menunjukkan bahwa dalam tiap-tiap konflik agraria, petani kecil dan petani menengah berusaha mempertahankan kepemilikan pribadi mereka atas tanah, demikian juga para tuan tanah dan kapitalis pertanian.
Oleh karena itu perhatian kita pada entitas petani dalam hubungan dengan kerja produksi di kabupate flores timur adalah yang paling utama sebelum kita berbicara lebih jauh tentang distribusi dan konsumsi. Bentuk penghisapan (eksploitasi) antar kaum tani harus di hentikan untuk menemukan kerja produksi yang adil dan merata agar slogan kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat bisa di wujudkan. Menghentikaan penghisapan antar kaum tani tidaklah mudah, tidak semudah yang kita lantunkan lagu kesejahteraan masyarakat lewat kampanye. Disini kita membutuhkan sosok pemimpin yang visioner, yang teruji dan tahan banting karena dia (pemimpi visioner) tidak hanya berhadapan dengan kaum tani yang berposisi sebagai penghisap tetapi dia juga pasti berhadapan dengan politisi-politisi lawan yang pastinya akan membangun kerja sama yang menguntungkan dengan kaum tani yang memiliki entitas sebagai penghisap entitas lainnya.
Hal berikut yang menjadi perhatian adalah proses distribusi hasil pertanian. Dalam proses ini yang akan terjadi adalah distribusi untuk konsumsi petani ataupun distribusi untuk pertukaran.
Pada distrbusi hasil pertanian untuk kebutuhan konsumsi maka kaum tani akan berhadap-hadapan dengan kaum tani yang berbeda entiitasnya. Apakah distribusi untuk konsumsi tersebut adil dan merata atau tidak tergantung dari cara mereka berproduksi berdasarkan hubungan mereka terhadap factor produksi. Disisi lain jika distribusi untuk di pertukarkan maka kaum tani berhadap-hadapan dengan proses tawar menawar dengan tengkulak disamping antar kaum tani sendiri. Jika proses produksi terjadi kerja sama tanpa penghisapan maka kaum tani secara bersama akan berhadapan dengan tengkulak dalam proses tawar menawar dipasaran. Hasil pertanian yang mengalami proses pertukaran bisa secara langsung antara produsen dan konsumen dan bisa juga melalui pihak tertentu yang berperan sebagai distributor (tengkulak) tergantung dari jangkaun konsumen terhadap hasil produksi. Kehadiran tengkulak sebagai distributor mengundang perdebatan dibanyak kalangan karena terjadi patokan (selisih) harga yang terlalu tinggi akibat persaingan antar distributor.  Jalan keluar untuk proses distribusi yang ditawarkan oleh politisi borjuasi dengan membentuk lumbung desa bisa menjadi satu alternative untuk persoalan distriibusi hasil produksi namun belum tentu untuk mengarahkan kesejateraan tergantung dari apakah proses penghisapan di kalangan kaum tani sudah di hentikan atau masih berjalan. Di samping itu menjadi perhatian adalah bagaimana selisih harga yang di berikan oleh lumbug desa dibandiingkan dengan tengkulak, dan kemudahan-kemudahan lainnya yang diberikan oleh distributor baik itu lumbung desa maupun para tengkulak. Kehadiran Lumbung Desa adalah sama persis dengan tengkulak karena sama-sama berperan sebagai distributor. Disinilah masing-masing distributor akan bersaing mendapatkan kepercayaan dari masyarakat entah itu lumbung desa maupun tengkulak. Memutuskan mata rantai dari produksi ke konsumsi adalah sebuah kalimat agitasi yang sering di lakukan oleh politisi yang sebenarnya itu sangat keliiru yang disusul dengann penawaran untuk membentuk lumbung desa. Ini hanya sebuah pergantian posisi yang semulah distributornya adalah tengkulak kemudian di ganti dengan lumbung desa.  Apapun bentuk kerjanya lumbung desa ini harus menjadi yang lebih baik dari tengkulak sehinnga menjadi alasan yang tepat dan logis mengapa terjadi proses pergantian distributor tersebut. Namun karena unsure utama yang menjadi tolak ukur kesejahteraan ada pada proses produksi maka akan menjadi sia-sia jika fokusnya adalah proses distribusi tanpa menghentikan penghisapan pada proses produksi.
Hubungan dalam proses produksi antar semua factor produksi adalah dasar pijakan untuk menentukan kesejahteraan masyarakat. Jika dalam hubungan produksi telah terjadi hubungan kerja yang adil dan merata maka proses intensifiikasi dan ekstensifikasi pertanian akan mencapai tujuannya, lumbung desa dalam proses distribusi akan mencapai tujuannya bahkan terwujunya kerja-kerja produksi baru akan mencapai target menuju kesejahteraan jika hubungan dalam berproduksi sudah adil tanpa saling mengeksploitasi.
Perhitungan yang akurat dan objektif mengenai keadaan geografis, curah hujan, cuaca, iklim, struktur tanah dan kesuburannya serta SDM dalam megolah semua sumber daya juga menjadi hal yang sangat penting untuk mendorong terwujudnya tujuan ektensifkasi dan intensifikasi, membentuk lahan produksi baru dan melakukan distribusi. Semuanya ini hanya bisa dilakukan dengan baiik apabilah dijalankan dengan baik dan saling kerja sama antar semua factor baik itu dari sisi masyarakat, pemerintahaan yang baik dan sumber daya yang mendukung. Namun satu hal yang wajib di ketahui bahwa selain hal diatas yaitu masyrakat masih terbatas berhadapan dengan feodalisme, borjuis local yang berposisi sebagai penghisap di daerah maka tak terlepas dari itu bahwa sebagai bagian dari masyarakat nasional dan dunia kita tetap berhadapan dengan kapitalisme nasional dan global yang terus mempermainkan posisinya sedemikian rumpah melalui organ-organ modern baik itu Negara, LSM, dan macam-macam organisasi modern lainnya yang termaniifestasi dalam bentuk kebijakan-kebijaka poliitik, peraturan-peraturan, Undang-undang, program-program bahkan dari sisi keuangan yaitu persaingan mata uang antar negara juga sangat berpengaruh terhadap jalan keluar menujuh kesejahteraan masyarakat.

Kupang, 25 Februari 2017.
*** tanpa asap, tanpa ampas, ku tulis ini untuk kampungku….. berjuanglah selagi kita masih bisa berjuang. Salam gelekat !!!

KAMI ANAK MATAHARI

kemarin itu dunia kami penuh cerita dan kenangan, kenangan pahit manis bersama mereka yang hari ini mungkin masih ada atau yang telah pulang ke pangkuan bumi tempat kami menyembah matahari. Kebersamaan seperti ini sering kami lakukan enta senga berkumpul untuk merencanakan sesuatu atau kebetulan skali tanpa sengaja kami duduk bersama. Hal yang paling sering dan terhitung paling dominan yang selalu membuat kami berkelompok dalam satu regu kecil adalah aktivitas menunggu matahari. Bukan hanya karna kami menjunjung tinggi matahari tetapi memang di kampung kami waihelan kerinduan matahari di saat pagi  adalah seperti doa yang sukar ditinggalkan. Kami akan mati kedinginan dan tak bisa beraktivitas bila sang tuan junjungan kami tak hadir saat kerinduan mendalam dari hati kami sedang bergejolak..
Kelompok kecil yang terbentuk setiap pagi biasanya terdiri dari 3 atau empat orang ataupun lebih dan pasti selalu berada di area depan pintu rumah sambil meneguk kopi hasil bumi kami dan menarik gulingan daun lontar yang telah disi dengan tembakau hasil tanah kami. Maklum tanah kami memang kaya tapi tak bisa di kelolah dengan baik... maklum tanah kami masih berstatus kepemilikan pemerintahan adat yang berwatak feodal.
Aktivitas duduk berkelompok ini yang jelas adalah menunggu matahri menyengat kulit lebam kusut akibat hawa dingin semalaman yang tak perna bosan menghujam kampung kami.
Kampung kami tak mampan bilah hanya di jelaskan dengan kata-kata karenabsebagian fenomena alamanya belum si bahasakan dalam tata bahasa indonesia atau bahasa apapun dan yang jelas hanya kami punya yang bisa.
Wilayah kami bisa di jangkaui dengan kendaraan roda dua dan empat bisa dari arah pelabuhan waiwadan menuju ke kapela st.maria goreti itulah jalan trans seburi kira2 7 km menuju ke kampung kami waihelan. Disana kami tak punya penginapan buat para turis manca negara dan domestik untuk bernostalgia.. kami hanya punya rumah warga yang masyarakatnya ramah dan santun bahkan mwrelahkan tubuh kami berada di atas bambu cincang dan yang paling penting adalah tamu kami bisa tidur dengan aman.. kebiasaan kami warisan nenek leluhur ini memang tidak bisa pudar dan tidak akan pudar bukan berarti kami ini terisolir, terpinggir dll sesuai dengan sebutan pemerintahan borjuis untuk kamum mayoritas didesa itu tertinggal, terpencil, terpinggir, termiskin dll. Kami tahu kami miskin uang dan itu jelas krna kampung kami tidak ada pabrik uang. Kami kaya alam dan budaya. Kami juga tidak tau makan uang, suap menyuap apalagi namanya pencuri . Kami hanya bisa makan dari hasil alam kami, kami hanya bisa menyuap bayi mungil kami, kami jug hanya bisa mencuri hati gadis desa kami.. singaktnya kami hanya bisa makan dari hasil alam kami dan kami hanya bisa menyogok dengan kekayaan budaya kami. Mungkin di tempat lain atau kerennya biasa oleh pemerintah menyebutnya korupsi. Kata itu baru bagi kami dan ternyata hanpir sama dengan mencuri menurut penngertian kami namun oleh mereka itu banyak hal dan untuk yg satu ini juga kami maklumi karna mungkin pencuri di kelas mereka sudah berlimpah maka perlu di bagi ke dalam divisi-divisinya.
Mungkin hanya itu yang bisa goe sampaikan saat ini dan sekali lagi kami punya Rera wulan sebagai yang berkuasa dan tana ekan tempat kami mencari makan bwetumbuh dan berbuat baik.. kami punya sejarah yang belum perna di tulis dan memang kami tidak mau sejarah kami di tulis oleh ilmuwan borjuis yang pada akhirnya budaya kami di politisasi dan akhirnya tidak murni ceritanya. Munkin tak pantas untuk mendapat gelar ini tapi kami dari sini, dia junjungan kami, KAMI ANAK MATAHARI

MEREKA INDAH DAN MENAWAN


Mereka indah.. indah dalam setiap tutur kata,, mereka ciptaan yang sempurna milik pulau kami. Gadis desa yang lugu selalu membuat kampungku riang dan ramai (dnb).

Waihelan adalah sebuah kampung kecil di ujung timur desa bukit seburi dan bagian barat pulau romantis adonara. Kampung yang letaknya di bawah lembah bukit seburi ini hanya mendapatkan sinar matahari dari jam 9 sampai jam 3 sore. Aktivitas masyarakat kampung ini umumnya bertani (bercocok tanam) dan berkebun di samping beternak sebagai pekerjaan sampingan.. ini bukan berarti mereka masyarakat pasca komunal primitif.. mereka adalah masyarakat komunal modern dalam kehidupannya walaupun tidak ditunjukan dalam bentuk suatu pemerintahan komunal, bahkan kearifan feodal masih juga sangat kental sehingga di tempat ini masih terpelihara sistem kehidupan yang sangat rumpu rampe.. kehidupannya bercorak komunal yang terwujud dalam budaya gemohing  di antara para warga namun masih di bawah pengaruh feodal krn pengaruh kepemilikan tuan tanah atas wilayah tersebut.. kapan saja warga bisa kehilangan lahan jika itu di inginkan oleh tuan tanah dan kerabatnya. Disisi lain pemerintahan yang masih di tempel oleh warna kolonial juga turut meramaikan sistem kehidupan di kampung ini....
Semuanya itu menjadi lengkap dalam rukunnya masyarakat dikampung twrsebut. 
Tak bisa di pungkiri,, ternyara keindahan kampungku bukan hanya dari alamnya yang indah tetapi para gadisnya yang elok dan menawan turut membuat salah satu sudut bumi ini indah. Dnb.


PESAN DARI PUNCAK SEBURI UNTUK SANG MAESTRO DI GELANGGANG POLITIK(*** no boli)

APB
Perputaran sejarah ternyata tak perna menganaktirikan pusat peradabannya, tak perna mengabaikan anak tanahnya. Bentangan peradaban yang terus berdialektika kini telah mengantar sang Maestro yang lahir dari kandungan bumi, turun dari Seburi bagaikan elang dengan cakarnya, gagah perkasa menuju singgah sana. Tak perna di pungkiri jika kita menoleh kembali pada kenangan dimasa silam yang ditorehkan oleh nenek moyang penghuni Danibao Eb’an di bawah pohon beringin telah mewarisi jiwa para pemberani, ditantang oleh alam lalu keluar sebagai pemenang untuk meneruskan cerita kepada anak cucu. Kini dihadang oleh perkembangan dunia kembali lagi atas restu sang Rera wulan, dan kerelaan ibunda Tana ekan bumi dari rahim seburi dengan tangan terbuka melepas pangerannya ketengah-tengah pertarungan politik demi sebuah tugas yang muliah mengabdi kepada lewotana. Pesan itu mungkin telah sampai kepada sang pangeran namun disini, dipuncak seburi kucoba mengulanginya sekedar untuk mengingatkannya akan tugas yang tengah diembannya; “anakku, pergilah... raihlah impian kami leluhurmu, bertarunglah dengan semangat yang telah kami warisi kepadamu digelanggang yang telah sengajah diciptakan untukmu. Jika ada kerikil dan onak duri yang menghadangmu itulah guru terbaik yang turut mendewasakanmu, turut membentukmu walaupun dengan cara yang menurutmu tak pantas dilakukan. Didunia kami,,,, tak ada yang mulus dalam setiap perjuangan,, kehilangan segalahnya ataupun sebagian dari milik kami adalah ujian yang menyakitkan namun akan manis ketika kami melewatinya. Kini di duniamu lakukan apa yang telah kami tanamkan dalam dirimu... kaulah pangeran pilihan kami dengan sayap dan cakar dari elang seburi selalu menjadi teman setiamu dalam setiap derap langkah perjuanganmu. Kemenangan telah menjadi milikmu... rawatlah itu untuk membuat kami tetap tersenyum walaupun hanya dari dunia fana, untuk membuat sanakmu bahagia agar kelak akan ada cerita tentang dirimu dalam lembaran sejarah yang ditulis dalam satu catatan bersama kami.


***Catatatan dari puncak seburi buat sang Maestro di kuan lagang (Gelanggang pertarungan)
Ditemani riak-riak air tawar yang enggan mengalir karena mungkin malu pada air asin yang sibuk dengan gulungan ombaknya, aku menulis ini dalam kesunyian, dalam kerinduan yang mencekam warisan dari jiwa para pemberontak *** Gela Naen DNB

NATAL & PISANG GORENG

Merayakan Natal bersama keluarga pastinya terasa istimewa. Perayaan ini semakin berkesan dengan hadirnya hidangan Natal dan kue khas Natal. Kerap tampil dalam bentuk yang menggugah selera, ini dia kue pisang goreng yang menjadi kue kebanggaan khususnya warga seburi dan sekitarnya. Pencuci mulut beraroma khas muko ini berasal dari Waihelan. Awalnya pisang (muko) ini menjadi pendamping minum kopi di setiap pagi sebelum kekebun. Aroma muko diyakini dapat memberi sensasi hangat untuk tubuh. Natal yang hadir bertepatan dengan musim dingin membuat kue ini pun selalu hadir di dalam perayaan Natal sehingga Pantas untuk di dijuluki kue natal. Kue Natal Pisang Goreng ini terbuat dari buah pisang masak, dan minyak goreng kelapa (Hela Tapo) dibuat dalam berbagai bentuk. Tujuan awalnya adalah agar menarik perhatian saat dihidangkan. Karena bentuknya bervariasi dan disukai banyak orang, kue pencuci mulut ini kerap dijadikan hadiah Natal. Seperti biasanya perayaan Natal di kampung damai ini dirayakan dengan cara yang sangat populis bgi setiap orang yang menikmatinya. Setelah kembali dari gereja semua warga dari anak-anak sampai orang dewasa pergi berjabatan tangan masuk dari rumah kerumah secara berkelompok dan di tutup dengan duduk bersama untuk merencanakan acara malam penutupan tahun. Hal ini telah menjadi kebiasaan turun temurun warisan nene-bele setelah mereka mengenal Agama.

PATUNG LENIN DI TEMPAT TAK TERDUGA


lenin
Patung Lenin yang dijungkalkan oleh warga Kiev, Ukraina.
Rakyat Ukraina baru saja menghancurkan sebuah patung besar sosok pemimpin revolusi Rusia, Vladimir Ilyich Lenin. Oleh rakyat Ukraina, patung ini dianggap simbol pertalian sejarah antara Ukraina dengan Rusia, dimana Ukraina pernah menjadi bagian dari Uni Soviet.
Lenin, yang bernama lahir Vladimir Ilich Ulyanov lahir di Simbirsk pada 22 April 1870 dan berasal dari keluarga dengan pendidikan yang baik. Ia adalah salah satu tokoh yang menjadi otak kaum Bolshevik dalam mengambil-alih kekuasaan di Rusia pada tahun 1917, dan merupakan arsitek dan kepala negara pertama Uni Soviet.
Tidak mengherankan bila pada masanya, banyak sekali patung Lenin dibuat, baik patung dada maupun utuh. Patung-patung ini tersebar di berbagai penjuru dunia, berikut kami hadirkan lima patung Lenin di berbagai negara.
1.Seattle, Amerika Serikat.
Patung ini dipindahkan ke pinggiran kota Seattle pada awal tahun 1990-an. Seorang guru bahasa Inggris, Lewis Carpenter, menggadaikan rumahnya untuk menyelamatkan patung ini dari Slowakia. Sekarang patung ini berdiri di antara sejumlah toko makanan cepat saji, dan dihiasi pada acara-acara khusus dengan lampu meriah atau kostum yang menarik.
lenin
2. Antartika
Pada Desember 1958 ilmuwan Soviet menanggapi pembangunan stasiun Amundsen-Scott di Kutub Selatan oleh Amerika Serikat dengan membangun stasiun penelitian di wilayah paling terpencil di Antartika yang dijuluki Pole of Inaccessibility. Mereka juga membuat patung dada Lenin sebelum akhirnya pergi meninggalkan stasiun itu dua minggu kemudian. Kini, hanya patung itu yang masih tersisa.
lenin
3. Islington, Inggris
Patung ini dibuat selama Perang Dunia Kedua untuk merayakan aliansi dengan Uni Soviet melawan tentara Nazi Jerman. Dibuat oleh arsitek imigran Rusia Berthold Lubetkin, yang bekerja dengan London's Finsbury Council pada proyek-proyek perumahan sebelum dan setelah perang. Patung ini berdiri untuk sementara waktu di Holford Square, dekat salah satu bekas rumah Lenin di London. Namun sering dirusak. Patung ini sekarang dapat dilihat di Museum Islington.
lenin
4. Tarhankut, Ukraina
Letak patung ini tidak jauh dari Kiev, tapi agak sulit bagi demonstran anti-Soviet untuk mendapatkannya. Ini adalah patung Lenin yang terletak di "museum bawah air" di Tarhankut, Krim. Sejumlah gambar mantan penguasa Soviet diletakkan di Alley of the Leaders, sedangkan patung-patung dan patung dada diletakkan berdiri atau berbaring di bawah air.
lenin
5. Cavriago, Italia
Cavriago adalah satu dari beberapa kota-kota Eropa Barat dengan patung Lenin di alun-alun kota. Website dewan kota menjelaskan (dalam bahasa Italia) bahwa perdebatan sengit berkecamuk pada 1918 antara kaum moderat dan "maksimalis" dalam Partai Sosialis lokal. Kaum maksimalis menang dan pada tahun 1920 patung Lenin didirikan. Patung dada ini dimaksudkan untuk memberikan kesaksian, dalam cara yang tidak menghakimi, atas "semangat politik dan massa yang begitu kuat pada masa-masa itu."
lenin

DARI KAMPUNGKU UNTUK INDONESIAKU(Waihelan... Negeri para master)

Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe.
Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta,
apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu!
Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, daripada makan bistik tapi budak.
Soekarno.
Kita semua telah kenyang dengan sejarah yang diberikan para pahlawan untuk Indonesia, ilmu yang mengalir sejak kita Sekolah Dasar hingga bangku Kuliah. Tentu banyak cara untuk mengabadikan sejarah, dengan membuat perubahan yang sedemikian hebat, mencontoh dan meneruskan perjuangan para pahlawan adalah yang bisa kita torehkan untuk jejak yang lebih tinggi negara ini. Belajar bagaimana menghasilkan karya-karya hebat untuk negeri tercinta dengan menjadikan sejarah sebagai batu loncatan untuk mencapai lebih tinggi perubahan. Pencapaian kemerdekaan bukanlah usaha yang kecil, pahlawan yang telah dididik dan digembleng di kampung, memiliki nasionalisme yang tinggi untuk menjadikan negaranya merdeka. Sebab itulah kita patut belajar dan bertindak layaknya pemuda Indonesia yang memiliki nasionalisme tinggi, mampu memberikan sumbangsih besar untuk negara tercinta.
Sejenak saya akan berbicara tentang sebuah perubahan dimulai dengan setiap pemuda yang tanggap dan mau berkarya untuk negara Indonesia. Perubahan dimulai dari hal-hal yang kecil, dari mulai kesadaran untuk melakukan perubahan, memulainya dengan semangat berkarya dan juga memberikan usaha terbaik untuk menjadi pribadi yang bisa merubah oranglain juga masyarakat disekitarnya. Hal yang mendasari adanya perubahan merupakan sikap penting yang harus dimiliki, namun bagaimana jika kita berada jauh dari sistem pemerintahan? Akan kah kita bisa melakukan perubahan?
Margaret Mead adalah seorang antroplog budaya Amerika mengatakan, Jangan pernah meragukan bahwa sekelompok kecil yang bijaksana, warga negara berkomitmen dapat mengubah dunia. Memang, itu adalah satu-satunya yang pernah memiliki kemampuan. Demikian ungkapan singkat yang memberikan arti bahwa bukan hanya orang-orang besar yang mampu melakukan perubahan untuk negaranya, namun mereka yang menjadi warga negara yang berkomitmen untuk perubahan itulah yang akan memberikan dampak besar untuk perubahan sebuah negara. Meskipun dipinggiran negeri sekalipun, jika setiap pemuda dan setiap warga negara indonesia berkomitmen untuk berkarya, perubahan itu akan tercipta sempurna.
Berkarya untuk Indonesia, sebuah ungkapan yang luar biasa indah bila dilakukan dengan realitas yang sesungguhnya, tentu bila tak percaya pada karya para pemuda Indonesia, tentu Bung Tomo tak akan pernah mengatakan akan mengguncang dunia dengan pemuda. Itulah yang menunjukkan bahwa pemuda memegang peranan penting untuk perubahan pada negara, yang mampu dilakukan adalah dengan berkarya maksimal dan juga mempertahankan idealisme bangsa Indonesia. Pemuda, jutaan karya mampu ditorehkan, komitmen dan tekad ada untuk perubahan besar. Dengan demikian, banyak yang mampu dilakukan dengan terus memberikan sumbangsih untuk negara dengan karya-karya besar.
Melihat kondisi negara yang seperti ini, penting bagi pemuda untuk segera bergerak, bukan malah membuat kerusakan moral dengan media serta memberikan status sosial yang memperburuk nama Indonesia. Perlu diketahui dengan kesadaran yang berarti, tanpa kesadaran setiap pemuda, Indonesia akan semakin terpuruk dengan adanya tindakan dan kondisi yang memburuk. Penting bagi kita, para pemuda untuk segera berbenah, segera melakukan perubahan dimulai dengan apa yang mampu kita berikan, karya-karya besar yang mampu kita hasilkan. Dari kampung kita dilahirkan untuk menjadi para pemuda yang hebat untuk meneruskan estafet kepemimpinan negara yang maju, dari kampung kita dilahirkan untuk bergerak dan berkarya untuk Indonesia.
Kita dapat melakukan perubahan dan berkarya maksimal dengan cara. Pertama, membuat tekad dan komitmen yang kuat untuk berkarya. Kedua, susun semua target yang dapat dilakukan kedepan dengan kemampuan yang kita punya, menyusun sesuai dengan bakat dan minat yang kita punya. Ketiga, lakukan dan berkaryalah sedikit demi sedikit dan berkomitmen untuk istiqomah mengerjakannya. Keempat, berikan manfaat sebanyak-banyaknya untuk oranglain dengan karya itu. Kelima, berusahalah untuk menjadikannya lebih dari yang lain dan mampu mengubah oranglain.
Dengan melakukan kelima langkah ini, mental pemuda untuk melakukan perubahan akan ada dalam setiap diri kita, tanpa pernah putusasa dan berhenti untuk bergerak. Setiap ikhtiar atau usaha yang besar akan memberikan hasil yang besar dan luarbiasa. Tentu dengan perjuangan dan perjalanan yang panjang dan tak mudah. Bersemangatlah pemuda berkarya untuk negeri tercinta, Indonesia!
Dari kampungku waihelan untuk indonesiaku, dari pinggiran negeri untuk mengabdi dan berkarya yang berarti, dari usaha yang kecil untuk perubahan yang jauh lebih besar, serta dari komitmen untuk menjadi warga negara yang baik untuk Indonesia menjadi negara maju. Mari kita renungkan kata-kata bapak presiden Indonesia pertama, Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta, apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, daripada makan bistik tapi budak. Maka saatnyalah kita bergerak maju dengan kaki sendiri, berkarya dan juga berusaha untuk berdiri sendiri tanpa meminta-minta pertolongan oranglain. Dari anak gaplek atau anak desa kita bisa berkarya untuk indonesia. Dari kampung kita mampu menjadi pemuda-pemuda yang luarbiasa. Semangat berkarya para pemuda! Majukan Indonesia dengan ilmu dan kerja nyata. Berkarya untuk Indonesia.

SISTEM EKONOMI KERAKYATAN


Ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang berbasis pada kekuatan ekonomi rakyat.Dimana ekonomi rakyat sendiri adalah sebagai kegiatan ekonomi atau usaha yang dilakukan oleh rakyat kebanyakan (popular) yang dengan secara swadaya mengelola sumberdaya ekonomi apa saja yang dapat diusahakan dan dikuasainya, yang selanjutnya disebut sebagai Usaha Kecil dan Menegah (UKM) terutama meliputi sektor pertanian, peternakan, kerajinan, makanan, dsb., yang ditujukan terutama untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dan keluarganya tanpa harus mengorbankan kepentingan masyarakat lainnya.

Secara ringkas Konvensi ILO169 tahun 1989 memberi definisi ekonomi kerakyatan adalah ekonomi tradisional yang menjadi basis kehidupan masyarakat local dalam mempertahan kehidupannnya. Ekonomi kerakyatan ini dikembangkan berdasarkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat local dalam mengelola lingkungan dan tanah
mereka secara turun temurun. Aktivitas ekonomi kerakyatan ini terkait dengan ekonomi sub sisten antara lain pertanian tradisional seperti perburuan, perkebunan, mencari ikan, dan lainnnya kegiatan disekitar lingkungan alamnya serta kerajinan tangan dan industri rumahan. Kesemua kegiatan ekonomi tersebut dilakukan dengan pasar tradisional dan berbasis masyarakat, artinya hanya ditujukan untuk menghidupi dan memenuhi kebutuhan hidup
masyarakatnya sendiri. Kegiatan ekonomi dikembangkan untuk membantu dirinya sendiri dan masyarakatnya, sehingga tidak mengekploitasi sumber daya alam yang ada.

Gagasan ekonomi kerakyatan dikembangkan sebagai upaya alternatif dari para ahli ekonomi Indonesia untuk menjawab kegagalan yang dialami oleh negara negara berkembang termasuk Indonesia dalam menerapkan teori pertumbuhan. Penerapan teori pertumbuhan yang telah membawa kesuksesan di negara negara kawasan Eropa
ternyata telah menimbulkan kenyataan lain di sejumlah bangsa yang berbeda. Salah satu harapan agar hasil dari pertumbuhan tersebut bisa dinikmati sampai pada lapisan masyarakat paling bawah, ternyata banyak rakyat di lapisan bawah tidak selalu dapat menikmati cucuran hasil pembangunan yang diharapkan itu. Bahkan di kebanyakan negara negara yang sedang berkembang, kesenjangan sosial ekonomi semakin melebar. Dari pengalaman ini, akhirnya dikembangkan berbagai alternatif terhadap konsep pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan. Pertumbuhan ekonomi tetap merupakan pertimbangan prioritas, tetapi pelaksanaannya harus serasi dengan pembangunan nasional yang berintikan pada manusia pelakunya.

Pembangunan yang berorientasi kerakyatan dan berbagai kebijaksanaan yang berpihak pada kepentingan rakyat. Dari pernyataan tersebut jelas sekali bahwa konsep, ekonomi kerakyatan dikembangkan sebagai upaya untuk lebih mengedepankan masyarakat. Dengan kata lain konsep ekonomi kerakyatan dilakukan sebagai sebuah strategi untuk
membangun kesejahteraan dengan lebih mengutamakan pemberdayaan masyarakat. Menurut Guru Besar, FE UGM ( alm ) Prof. Dr. Mubyarto, sistem Ekonomi kerakyatan adalah system ekonomi yang berasas kekeluargaan, berkedaulatan rakyat, dan menunjukkan pemihakan sungguh – sungguhpada ekonomi rakyat Dalam praktiknya, ekonomi kerakyatan dapat dijelaskan juga sebagai ekonomi jejaring ( network ) yang menghubung – hubungkan
sentra – sentra inovasi, produksi dan kemandirian usaha masyarakat ke dalam suatu jaringan berbasis teknologi informasi, untuk terbentuknya  jejaring pasar domestik diantara sentara dan pelaku usaha masyarakat.

Sebagai suatu jejaringan, ekonomi kerakyatan diusahakan untuk siap bersaing dalam era globalisasi, dengan cara mengadopsi teknologi informasi dan sistem manajemen yang paling canggih sebagaimana dimiliki oleh lembaga “ lembaga bisnis internasional, Ekonomi kerakyatan dengan sistem kepemilikan koperasi dan publik. Ekomomi kerakyatan sebagai antitesa dari paradigma ekonomi konglomerasi berbasis produksi masal ala Taylorism. Dengan demikian Ekonomi kerakyatan berbasis ekonomi jaringan harus mengadopsi teknologi tinggi sebagai faktor pemberi nilai tambah terbesar dari proses ekonomi itu sendiri. Faktor skala ekonomi dan efisien yang akan menjadi dasar kompetisi bebas menuntut keterlibatan jaringan ekonomi rakyat, yakni berbagai sentra-sentra kemandirian ekonomi rakyat, skala besar kemandirian ekonomi rakyat, skala besar dengan pola pengelolaan yang menganut model siklus terpendek dalam bentuk yang sering disebut dengan pembeli .

Berkaitan dengan uraian diatas, agar sistem ekonomi kerakyatan tidak hanya berhenti pada tingkat wacana, sejumlah agenda konkret ekonomi kerakyatan harus segera diangkat kepermukaan. Secara garis besar ada lima agenda pokok ekonomi kerakyatan yang harus segera diperjuangkan. Kelima agenda tersebut merupakan inti dari poitik ekonomi kerakyatan dan menjadi titik masuk ( entry point) bagi terselenggarakannya system ekonomi kerakyatan dalam jangka panjang =
Peningkatan disiplin pengeluaran anggaran dengan tujuan utama memerangi praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dalam segala bentuknya;  Penghapusan monopoli melalui penyelenggaraan mekanisme ; persaingan yang berkeadilan ( fair competition) ; Peningkatan alokasi sumber-sumber penerimaan negara kepada pemerintah daerah.;  Penguasaan dan redistribusi pemilikan lahan pertanian kepada petani penggarap ; Pembaharuan UU Koperasi dan pendirian koperasi-koperasi dalam berbagai bidang usaha dan kegiatan.

Yang perlu dicermati peningkatan kesejahteraan rakyat dalam konteks ekonomi kerakyatan tidak didasarkan pada paradigma lokomatif, melainkan pada paradigma fondasi. Artinya, peningkatan kesejahteraan tak lagi bertumpu pada
dominasi pemerintah pusat, modal asing dan perusahaan konglomerasi, melainkan pada kekuatan pemerintah daerah, persaingan yang berkeadilan, usaha pertanian rakyat sera peran koperasi sejati, yang diharapkan mampu berperan sebagai fondasi penguatan ekonomi rakyat. Strategi pembangunan yang memberdayakan ekonomi rakyat
merupakan strategi melaksanakan demokrasi ekonomi yaitu produksi dikerjakan oleh semua untuk semua dan dibawah pimpinan dan pemilikan anggota-anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakat lebih diutamakan ketimbang kemakmuran orang seorang. Maka kemiskinan tidak dapat ditoleransi sehingga setiap kebijakan dan program pembangunan harus memberi manfaat pada mereka yang paling miskin dan paling kurang sejahtera. Inilah pembangunan generasi mendatang sekaligus memberikan jaminan sosial bagi mereka yang paling miskin dan tertinggal.
Yang menjadi masalah, struktur kelembagaan politik dari tingkat Kabupaten sampai ke tingkat komunitas yang ada saat ini adalah lebih merupakan alat control birokrasi terhadap masyarakat. Tidak mungkin ekonomi kerakyatan di wujudkan tanpa restrukturisasi kelembagaan politik di tingkat Distrik. Dengan demikian persoalan pengembangan
ekonomi rakyat juga tidak terlepas dari kelembagaan politik di tingkat Distrik. Untuk itu mesti tercipta iklim politik yang kondusif bagi pengembangan ekonomi rakyat. Di tingkat kampung dan Distrik bisadimulai dengan pendemokrasian pratana sosial politik, agar benar-benar yang inklusif dan partisiporis di tingkat Distrik untuk menjadi partner dan penekan birokrasi kampung dan Distrik agar memenuhi kebutuhan pembangunan rakyat

BEREUN YANG DIURAPI

BEREUN ADALAH YANG DI URAPI (Bung Lenin).

Selamat natal dan tahun baru 2017 buat semua BREUN di mana saja berada.
Yitro, mertua Musa ~ketika melihat Musa dalam kegalauan yang besar, mengusulkan kepada Musa suatu pola pembagian tugas yang dengannya ia dapat memimpin bangsa Israel dengan berhasil. Pola itu adalah diperlukan para pemimpin 10 orang, 50 orang, 100 orang dan 1000 orang. Artinya umat yang bertambah banyak itu harus dikelompokkan ke dalam jumlah-jumlah tadi untuk memudahkan koordinasi tetapi juga pelayanan kepada mereka. Dengan demikian tugas Musa menjadi terfokus, yakni menjadi hakim yang adil atas mereka dan membawa segala doa umat kepada Tuhan (fungsi imam).
Untuk mendapati para pemimpin di tiap kelompok umat itu, ada tiga syarat yang diajukan Yitro menjadi pertimbangan Musa. Syarat kesatu, carilah orang yang cakap dan takut Tuhan. Sebab seorang pemimpin harus memimpin bukan karena kekuatannya, tetapi karena firman dan kehendak Tuhan. Ia tidak boleh otoriter dan memerintah umat melakukan segala sesuatu menurut kehendak hatinya, melainkan menurut kehendak Tuhan.
Kedua, carilah orang yang dapat dipercaya. Sebab sebagai wakil dari kelompok 10, 50, 100 dan 1000, ia harus bisa membawa aspirasi umat dan mewakili mereka, bukan mewakili dirinya sendiri atau mewakili group, keluarga atau kroni-kroninya. Ia harus mewakili umat secara langsung dan membawa semua pergumulan umat agar umat dapat dilayani secara baik.

Ketiga, carilah orang yang benci akan suap, sebab jika pemimpin suka menerima suap, keadilan akan jauh, orang miskin akan semakin menderita, orang-orang yang dirampas haknya terus diperbudak, dan mereka yang kaya bertindak semena-mena terhadap saudaranya sendiri. Pemimpin yang suka akan suap tidak takut Tuhan.
Tiga syarat itu menjadi syarat pokok yang penting diperhatikan, termasuk dalam hidup kita saat ini. Dalam bangsa ini, kita perlu para pemimpin dan wakil rakyat yang memenuhi standard syarat-syarat tersebut. Artinya, mereka memang dipilih dan ditetapkan agar semua rakyat dapat menikmati hak hidup secara wajar. Jadi jabatan tidak membuat mereka larut dalam fantasi status sosial yang tinggi, tetapi menjadi semangat dan sumber motivasi untuk melayani seluruh rakyat. Karena tidak ada pemimpin tanpa rakyat, sebaliknya rakyat adalah pemegang otoritas yang mempercayakan haknya kepada para pemimpin
Hendaklah di momen pilkada flotim 2017 BEREUN yang di urapi tetap berpedoman pada makna kepemimpinan yang telah di letan oleh Allah dalam diri setiap pemimpin bijak sepanjang jaman. BREUN untuk flotim adalah yang di urapi.. di urapi oleh Tuhan dan Lewotana Lamaholot... dari BEREUN kita membangun flotim yang semakin dekat iman dan moralnya akan kebaikan menuju kesejahteraan.
Kiranya Tuhan BREUN dalam setiap langkah agar semuanya berjalan di dalam rencana TUHAN. Amin!

SIAPA "SAHABAT RAKYAT" DAN BAGAIMANA MEREKA MEMUSUHI KAUM SOSIAL DEMOKRAT

(Jawaban terhadap artikel-artikel Russkoye Bogatstvo yang memusuhi kaum Marxis).

V.I. Lenin (1894) Ditulis dalam musim semi dan musim panas tahun 1894. Pertama terbit dalam tahun 1894. Dari karya V. I. Lenin, Kumpulan Tulisan, Edisi Inggris ke-4, Penerbit Kemajuan, Moskow, 1972 Penerjemah: Sugeng Panut, Oktober - Nopember 2000 Dimuat ke HTML oleh Ted Sprague, Agustus 2009 Buku V. I. Lenin 'Siapa "Sahabat Rakyat" Dan Bagaimana Mereka Memusuhi Kaum Sosial Demokrat' (Jawaban Terhadap Artikel-Artikel Russkoye Bogatstvo Yang Memusuhi Kaum Marxis) ini ditulis dalam tahun 1894 (bagian yang pertama selesai dalam bulan April, sedangkan yang kedua dan yang ketiga dalam musim panas). Lenin mulai mengerjakan buku ini di Samara dalam tahun 1892-93. Di dalam lingkaran Marxis Samara, ia menyampaikan ceramahnya di mana ia dengan keras mengkritik kaum Narodnik liberal yang anti-Marxis, seperti V V. (Voronlsov) Mikhailovsky, Yuzhakov, dan Krivenko. Ceramah-ceramah inilah yang digunakan sebagai bahan untuk mempersiapkan buku ini. Dalam musim gugur tahun 1894, Lenin membacakan karyanya, 'Siapa "Sahabat Rakyat" Dan Bagaimana Mereka Memusuhi Kaum Sosial Demokrat' ini, kepada para anggota lingkaran Marxis St. Petersburg. "Saya ingat," tulis N. K. Krupskaya dalam buku kenang-kenangannya, "bagaimana ceramahnya itu telah menggetarkan kami semua. Tujuan perjuangan itu dinyatakan dalam pamflet dengan kejelasan yang mengagumkan. Salinannya dalam bentuk hektograf pun beredar sesudah itu dari satu tangan ke satu tangan lainnya di bawah judul "Buku Kuning." Buku-buku itu tidak ditandatangani. Karena cukup luas dibaca, maka tidak disangsikan lagi, buku-buku itu pun mempunyai pengaruh yang kuat di kalangan anak-anak muda Marxis pada waktu itu." (N. K. Krupskaya, Buku Kenang-Kenangan Lenin, Moskow, 1959, hal. 15.) Buku Lenin diterbitkan dalam beberapa bagian yang terpisah. Bagian yang pertama adalah dalam bentuk hektograf yang terbit dalam bulan Juni 1894 di St. Petersburg, dan yang secara ilegal diedarkan di sana dan di kota-kota lainnya. Edisi kedua dari bagian yang pertama ini, dan yang dicetak dengan cara yang sama, muncul dalam bulan Juli 1894. Kira-kira 100 kopi dari bagian pertama dan kedua ini telah dicetak oleh A. A. Canshin dalam bulan Agustus di Gorki (Gubernia Vladimir) dan dalam bulan September di Moskow. Dalam bulan September tahun yang sama, A. A. Vaneyev, di St. Petersburg, mencetak dalam bentuk hektograf sebanyak 50 kopi lagi dari bagian pertama ini (yang merupakan edisi keempat), dan kopi dari bagian kedua yang nyaris dalam jumlah yang sama. Edisi dari buku ini memiliki catatan pada sampulnya, sbb.: "Diterbitkan oleh kelompok propinsi Sosial Demokrat." Ini perlu dibuat sebagai akibat dari kondisi ilegal ketika buku ini dicetak. Kemudian organisasi-organisasi setempat membuat kopi dari karya Lenin dengan berbagai alat, yang sebagian ditulis tangan, yang lain diketik, dsb. Sekelompok kaum Sosial Demokrat di Uyezd Borzna dari Gubernia Chernigov membuat kopi dari buku dalam bentuk hektograf pada tahun 1894. Kopi dari edisi ini beredar di Chernigov, Kiev, dan St. Petersburg. Pada akhir tahun 1894, buku ini dibaca di Vilno, dalam tahun 1895 di Penza; dan kira-kira pada waktu yang sama juga dibaca di Vladimir. Dalam tahun 1895-1896, buku ini beredar di kalangan mahasiswa Marxis di Tomsk. Pada waktu yang sama, buku ini juga dibaca di Rostov-on-Don, dan dalam tahun 1896 di Poltava dan kota-kota lainnya. Buku Lenin terkenal di kalangan anggota kelompok Emansipasi Buruh, dan juga di berbagai organisasi Sosial Demokratik lainnya di luar negeri. Kopi dalam bentuk hektograf dari edisi bagian pertama dan kedua buku ini ditemukan pada bagian awal tahun 1923 di dalam arsip organisasi Sosial Demokratik di Berlin, dan nyaris secara serentak juga di Perpustakaan Umum Negara Saltykov-Shchedrin di Leningrad. Dalam edisi pertama, kedua, dan ketiga dari Kumpulan Tulisan karya V. I. Lenin itu, dicetak menurut edisi tahun 1894 dalam bentuk hektograf yang ditemukan dalam tahun 1923. Dalam tahun 1936, Institut Marxisme-Leninisme mendapatkan kopi selanjutnya dari edisi tahun 1894 dalam bentuk hektograf. Kopi ini berisi banyak sekali koreksi editor, yang tampaknya dibuat oleh Lenin ketika mempersiapkannya untuk mencetak buku ini di luar negeri. Naskah 'Siapa "Sahabat Rakyat"' yang diterbitkan dalam edisi sekarang ini sesuai dengan naskah dari kopi dalam bentuk hektograf yang diperoleh dari Institut dalam tahun 1936, dengan mempertimbangkan koreksi-koreksi yang telah dibuat. Menurut kopi yang resmi, tanda koma yang terbalik telah diganti dalam beberapa bagian dari tulisan itu menjadi huruf miring, sedangkan angka sisipan yang ada di dalam tanda kurung dari naskah itu telah diberi catatan kaki. Penjelasan Lenin untuk tabel (Lampiran I), yang telah dihilangkan dalam edisi-edisi sebelumnya, juga diberikan di sini. Bagian kedua dari buku ini masih juga belum ditemukan. Bab I Catatan dari Penerbit Catatan untuk edisi yang sekarang ini [Bagian II masih belum ditemukan] Bab III (Bagian 1) Bab III (Bagian 2) Bab III (Bagian 3) Lampiran I Lampiran II Lampiran III Karya-karya Lenin | Seksi Bahasa Indonesia M.I.A.